Tuesday, June 30, 2009
Kekayaan dan Uang...
Kekayaan tidak bisa begitu saja disamakan dengan uang. Uang bersifat sementara sedangkan kekayaan itu sifatnya permanen.
Menurut Roger Hamilton dalam bukunya "Your Life Your Legacy", definisi kekayaan adalah:
"Kekayaan bukanlah seberapa banyak uang yang anda miliki. Kekayaan adalah apa yang masih anda miliki bila anda telah kehilangan semua uang anda."
Kekayaan sejati terletak pada kekuatan untuk memberi dan menerima dengan segenap kemampuan kita. Mereka yang mengembangkan kekayaan akan terus-menerus meningkatkan aliran mereka, menarik lebih banyak dan memberi lebih banyak. Baru saat kita menjalani hidup dengan segenap kemampuan, kita dapat memberi dengan segenap kemampuan.
Jika dianalogikan, kekayaan itu seperti taman dan uang seperti kupu-kupu. Dengan analogi ini, perbedaan yang jelas akan terlihat antara strategi orang yang sibuk mencari uang dibanding dengan orang yang membangun kekayaan.
Taman yang paling indah dirawat dengan baik agar dapat memberikan kenyamanan paling besar dan menarik banyak kupu-kupu. Para penghasil kekayaan tidak membuat jaring untuk menangkap kupu-kupu. Mereka membuat taman yang indah.
Jika seseorang ingin menangkap kupu-kupu, orang tersebut akan memutuskan untuk membuat sebuah jaring. Tentu saja dengan sebuah jaring seseorang dapat menangkap kupu-kupu dengan mudah. Dia akan belajar dan mempraktikkan keterampilan menangkap kupu-kupu. Dia akan membuat jaring yang makin besar, bergerak lebih cepat, dan perlahan-lahan dia mulai menangkap kupu-kupu lebih banyak.
Namun ada sesuatu yang salah. Setelah bertahun-tahun melakukan strategi ini, dia masih harus terus melakukan rutinitas untuk menangkap lebih banyak kupu-kupu lagi. Dia juga harus menyimpan dan menjaga kupu-kupu yang telah dia miliki. Jika tidak, semuanya akan segera terbang keluar lagi. Semakin banyak kupu-kupu yang dia miliki semakin sulit untuk menyimpannya. Dia akan terus berada dalam ketakutan bahwa kupu-kupu itu akan terbang keluar lagi atau seseorang dengan jaring yang lebih besar akan mengalahkan dia di permainan dia sendiri.
Para penghasil kekayaan tidak sibuk membuat jaring. Mereka membuat taman. Dengan fokus untuk menciptakan taman yang indah, mereka menumbuhkan sesuatu yang lebih permanen di sekeliling mereka. Saat tamannya berkembang, kupu-kupu akan datang dengan sendirinya. Seiring waktu berjalan, usaha yang diperlukan untuk merawat taman itu semakin berkurang dan kupu-kupu yang datang semakin bertambah. Bahkan kupu-kupu ini sendirilah yang akan menyerbuki taman mereka. Mereka tidak takut kupu-kupu itu pergi karena akan selalu ada yang datang lebih banyak lagi. Jika ada orang lain yang mengambil kupu-kupu mereka, kupu-kupu baru akan datang lebih banyak lagi keesokan harinya.
Dan saya memutuskan untuk membuat tamanku sendiri!
Taman yang indah yang mendatangkan banyak kupu-kupu setiap harinya... Amien!!
Monday, June 22, 2009
A Journey to Bromo
Hari Pertama. Kamis, 21 Mei 2009. Kami berangkat bersama-sama dari Bandung naik kereta kelas bisnis Mutiara Selatan menuju ke Surabaya, berangkat jam 5 sore dari Bandung. Harga tiketnya saat itu adalah Rp.175,000. Karena kami berangkat pada saat libur waisak (long weekend), harga tiket tsb adalah harga diatas normal.
Hari Kedua. Jum’at, 22 Mei 2009. Tiba di Surabaya jam 7 pagi. Dari stasiun kami langsung menuju terminal bus bungurasih naik mobil angkot mobil ELF. Bayarnya Rp.4,000 / orang. Lalu dari terminal bungurasih kami naik bus AC yang menuju ke Malang. Bayarnya Rp.15,000 / orang. Sampai di terminal Arjosari Malang kami langsung ke rumahnya Domplenk dengan berjalan kaki, karena memang rumahnya dekat dengan terminal. Cuma 10 menit berjalan kaki. Tiba di rumah Domplenk sekitar jam 09.30. Disana kami beristirahat sebentar, bersih-bersih dan bercengkrama dengan keluarganya Domplenk. Setelah sholat Jum’at dan membeli perbekalan kami menuju ke terminal Arjosari lagi. Sekitar jam 02.30 kami naik bus dari Malang menuju Probolinggo. Bus non-AC, ongkosnya Rp.14,000 / orang. Tiba di Probolinggo kami naik angkot mobil ELF ke Cemorolawang. Ongkosnya Rp. 25,000 / orang. Tiba di Cemorolawang sudah lewat maghrib. Disini banyak sekali hotel dan penginapan utk para wisatawan asing & lokal yang sedang berwisata disekitar pengunungan Bromo. Kami akhirnya menyewa 1 kamar di sebuah penginapan Cemorolawang.
Hari Ketiga. Sabtu, 23 Mei 2009. Kami tiba di Pananjakan sekitar jam 1 dini hari. Wooww disini dingin sekali!!! Sampai disana kami mencari tempat utk tidur dan beristirahat. Akhirnya kami menemukan tempat utk tidur dan berlindung dari dinginnya udara Pananjakan. Saya, Agse, Kopral dan Wilko tidur di musola... Domplenk & Boy...diluar... ditempat melihat matahari terbit. Sepertinya mereka berdua tidak tidur.. Gila!! Saya pun hanya bisa tidur 1 jam karena udara yg sangat dingin membuat saya tidak bisa tidur lama. Tapi ada fenomena aneh terjadi disini... si Kopral yang sepertinya udah capek banget, dalam hitungan kurang dari sepuluh detik... dia udah tidur dengan pulas sambil mengeluarkan suara keras sekali seperti suara org menggergaji kayu (ngorok maksudnya... ayo ngaku dah pral... hehe). Jam 04.30 semua sudah bangun dan sudah bersiap utk melihat matarahari terbit. Tempat ini memang dirancang utk melihat matahari terbit. Banyak kursi panjang yang disusun berundak-undak sengaja dipasang disini utk melihat matahari terbit. Sekitar jam 05.00 Pananjakan sudah mulai dipenuhi wisatawan asing & lokal. Tempat yang tadi longgar sekarang mendadak penuh dan terasa sempit sekali. Mereka -para wisatawan itu- datang kesini dengan menggunakan jeep sewaan. Harga sewanya Rp.275,000 per mobil dan satu mobil cukup utk 6 orang. Mereka datang dengan wajah cerah ceria (kalo kami mah udah pada kucel meskipun tetap segar ceria). Ada salah seorang turis lokal yg juga mengeluh tentang suhu udara yang tidak dingin, dia bilang, ”mana katanya dingin... enggak dingin, malah gerah..”. Saya yang mendengar dia bilang itu, dalam hati saya bergumam, ”iya maneh kesini setelah matahari muncul... kita beku kedinginan tadi malam.. tuh sampe-sampe kaca musola berembun... bikin emosi aja...!!”.
Hari Keempat. Minggu, 24 Mei 2009.
Hari Kelima. Senin, 25 Mei 2009. Pagi-pagi sekali kami sudah berangkat ke stasiun gubeng Surabaya supaya tidak telat lagi. Kami diantar oleh kakaknya Domplenk. Jam 07.30 pagi kereta kami berangkat. Harga tiket kereta Argo Wilis Rp.220,000. Kereta ini tiba di Bandung jam 8 malam. Dari stasiun bandung kami berpisah. Wilko dan Agse langsung ke tempat travel dan langsung menuju Jakarta. Saya, Domplenk dan Boy ke tempat Domplenk. Kopral sendiri pulang ke rumahnya. Dari tempat Domplenk saya langsung ke Jatinangor utk bertemu dengan Ezie. Saya kesana diantar Domplenk naik motor. Sampai disana, saya, Domplenk dan Ezie makan malam bersama. Setelah itu saya langsung menuju Cileunyi utk naik bis yang menuju Jakarta. Saat itu sudah jam 11 malam. Di perjalanan, bis yang saya naiki pecah ban.
Hari Keenam. Selasa, 26 Mei 2009. Saya sampai rumah jam 3 dini hari... huuaa capeek! Pagi-paginya langsung berangkat kerja... kembali dengan rutinitas lagi...hiks!
Wow... long weekend kali ini benar-benar menyenangkan... A great great long weekend!!!
See you in other trip friend!!!
Ringkasan Biaya Perjalanan:
| Rute | Via | Perjalanan Kami | Detail | Keterangan |
| | Bis | 45,000 | 45,000 | per orang |
| | KA - Mutiara Selatan | 175,000 | 175,000 | per orang |
| | Bis AC | 15,000 | 15,000 | per orang |
| | Bis Non-AC | 220,000 | 14,000 | per orang |
| Probolinggo - Cemorolawang | Angkot ELF | 25,000 | per orang | |
| Penginapan Ke-1 | | 70,000 | 1 kamar | |
| Penginapan Ke-2 | | 100,000 | 1 rumah | |
| Cemorolawang - Probolinggo | Angkot ELF | 20,000 | per orang | |
| Probolinggo - | Bis Non-AC | 14,000 | per orang | |
| | Bis AC | 15,000 | per orang | |
| | KA - Argo Wilis | 220,000 | 220,000 | per orang |
| | Bis | 45,000 | 45,000 | per orang |
| TOTAL | 720,000 | 588,000 | | |
- Total biaya perjalanan kami adalah Rp.720,000 / orang, sudah termasuk makan & penginapan.
- Jika biaya perjalanan dirinci tanpa penginapan & makan adalah Rp. 588,000 / orang.
Thursday, June 18, 2009
Starting Point
Seorang teman pernah mengatakan, ”ayo tumbuh & berkembang bersama...”. Harapanku adalah semoga apa yang saya tulis disini nantinya bisa menjadi salah satu sarana untuk tumbuh, berkembang bersama, dan bersinar layaknya bintang di langit malam.
Let it be...
