Monday, June 22, 2009

A Journey to Bromo

Setelah kurang lebih sebulan direncanakan akhirnya jadi juga saya dan 5 orang teman FT 2001 melakukan perjalanan ke bromo. Kami berenam adalah saya, Domplenk, Agse, Boy, Kopral (yang sekarang udah jadi jenderal), dan Wilko. Gaya perjalanan kami adalah backpacker-an… wuiih mantap..!!! Jalur perjalanan kami adalah : Bandung - Surabaya - Malang - Probolinggo - Cemorolawang - Pananjakan - Bromo.

Hari Pertama. Kamis, 21 Mei 2009. Kami berangkat bersama-sama dari Bandung naik kereta kelas bisnis Mutiara Selatan menuju ke Surabaya, berangkat jam 5 sore dari Bandung. Harga tiketnya saat itu adalah Rp.175,000. Karena kami berangkat pada saat libur waisak (long weekend), harga tiket tsb adalah harga diatas normal.

Hari Kedua. Jum’at, 22 Mei 2009. Tiba di Surabaya jam 7 pagi. Dari stasiun kami langsung menuju terminal bus bungurasih naik mobil angkot mobil ELF. Bayarnya Rp.4,000 / orang. Lalu dari terminal bungurasih kami naik bus AC yang menuju ke Malang. Bayarnya Rp.15,000 / orang. Sampai di terminal Arjosari Malang kami langsung ke rumahnya Domplenk dengan berjalan kaki, karena memang rumahnya dekat dengan terminal. Cuma 10 menit berjalan kaki. Tiba di rumah Domplenk sekitar jam 09.30. Disana kami beristirahat sebentar, bersih-bersih dan bercengkrama dengan keluarganya Domplenk. Setelah sholat Jum’at dan membeli perbekalan kami menuju ke terminal Arjosari lagi. Sekitar jam 02.30 kami naik bus dari Malang menuju Probolinggo. Bus non-AC, ongkosnya Rp.14,000 / orang. Tiba di Probolinggo kami naik angkot mobil ELF ke Cemorolawang. Ongkosnya Rp. 25,000 / orang. Tiba di Cemorolawang sudah lewat maghrib. Disini banyak sekali hotel dan penginapan utk para wisatawan asing & lokal yang sedang berwisata disekitar pengunungan Bromo. Kami akhirnya menyewa 1 kamar di sebuah penginapan Cemorolawang. Setelah bernegosiasi akhirnya harga yang kami dapatkan adalah Rp.70,000 utk satu kamar. Sekitar jam 10 malam kami ber-enam berangkat memulai perjalanan dari Cemorolawang menuju Pananjakan. Kami melakukan perjalanan malam karena kami berniat utk melihat matahari terbit keesokan paginya disana. Kami menyewa 2 orang guide -anak smp penduduk tengger asli- utk menunjukan jalannya menuju kesana. Jalan yang kami lalui bukan jalan normal...tapi jalan setapak yang mendaki dan terus mendaki dengan semak-semak setinggi dada di kanan-kiri kami. Karena jalannya yang cukup licin, saya dan beberapa teman sempat tergelincir beberapa kali. Maklum gak pake sepatu gunung om...hehehe. Perjalanan kami ini memakan waktu sekitar 3 jam.

Hari Ketiga. Sabtu, 23 Mei 2009. Kami tiba di Pananjakan sekitar jam 1 dini hari. Wooww disini dingin sekali!!! Sampai disana kami mencari tempat utk tidur dan beristirahat. Akhirnya kami menemukan tempat utk tidur dan berlindung dari dinginnya udara Pananjakan. Saya, Agse, Kopral dan Wilko tidur di musola... Domplenk & Boy...diluar... ditempat melihat matahari terbit. Sepertinya mereka berdua tidak tidur.. Gila!! Saya pun hanya bisa tidur 1 jam karena udara yg sangat dingin membuat saya tidak bisa tidur lama. Tapi ada fenomena aneh terjadi disini... si Kopral yang sepertinya udah capek banget, dalam hitungan kurang dari sepuluh detik... dia udah tidur dengan pulas sambil mengeluarkan suara keras sekali seperti suara org menggergaji kayu (ngorok maksudnya... ayo ngaku dah pral... hehe). Jam 04.30 semua sudah bangun dan sudah bersiap utk melihat matarahari terbit. Tempat ini memang dirancang utk melihat matahari terbit. Banyak kursi panjang yang disusun berundak-undak sengaja dipasang disini utk melihat matahari terbit. Sekitar jam 05.00 Pananjakan sudah mulai dipenuhi wisatawan asing & lokal. Tempat yang tadi longgar sekarang mendadak penuh dan terasa sempit sekali. Mereka -para wisatawan itu- datang kesini dengan menggunakan jeep sewaan. Harga sewanya Rp.275,000 per mobil dan satu mobil cukup utk 6 orang. Mereka datang dengan wajah cerah ceria (kalo kami mah udah pada kucel meskipun tetap segar ceria). Ada salah seorang turis lokal yg juga mengeluh tentang suhu udara yang tidak dingin, dia bilang, ”mana katanya dingin... enggak dingin, malah gerah..”. Saya yang mendengar dia bilang itu, dalam hati saya bergumam, ”iya maneh kesini setelah matahari muncul... kita beku kedinginan tadi malam.. tuh sampe-sampe kaca musola berembun... bikin emosi aja...!!”. Pemandangan matahari terbit dan gunung semeru dari Pananjakan ini terlihat sangat indah. Di bawah kami yang terlihat hanya lautan awan... wuuih mantap!! Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan utk berfoto dengan latar belakang pemandangan tersebut. Loh...loh... tapi koq ada salah seorang dari kami bukan menjadikan pemandangan sebagai objek fotonya melainkan objek fotonya adalah sesama turis yang berlawanan jenis dan masih muda... nah siapa nih.. (ayo ngaku kieq..!!) Sekitar jam 06.30 kami turun dari Pananjakan ke Cemorolawang dengan berjalan kaki (lagi..!!!). Jalur turun kami berbeda dengan jalur naik. Jalur normal, jalur mobil... jalur yang lebih jauh dari jalur naik. Perjalanan kami sekitar 6,5 jam...!!! mengitari beberapa gunung, menuruni beberapa lembah, telaga pasir, beberapa mobil telah melewati kami (malah udah ada yg bolak-balik 2 kali...bule pula..???!! eh gak ada hubungannya ya...), berbagai cara berjalan dicoba, maju, mundur, miring, zig-zag, berlari, puluhan foto diambil dengan berbagai latar belakang dan pose yang berbeda, sambil menyanyi, becanda, tertawa riang, melompat, menahan buang air besar (hehe..), ngantongin batu, tidur-tiduran, buka baju, buka sepatu, kentut... Haha.. menyenangkan sekali.. unforgetable moment.. dan hal yang paling luar biasa adalah tidak ada seorang pun dari kami yang mengeluh... tapi malah tertawa terus...mau susah ataupun senang.. yang terdengar adalah tawa ceria dari monkieq-monkieq gunung ini. Kami sangat menikmati perjalanan ini... Tiba di penginapan Cemorolawang sekitar jam 1 siang lebih dikit. Sampai disana kami langsung siap-siap utk mencari tempat penginapan lain. Kami tiba-tiba disuruh utk mengosongkan kamar oleh pemilik penginapan karena ada tamu lain yang sudah booking dan akan datang sebentar lagi. Akhirnya kami mendapatkan penginapan lain. Penginapan rumah penduduk. 1 rumah dengan 2 kamar tidur, ruang tamu, satu tempat tidur diluar kamar, dan 1 kamar mandi seharga Rp.100,000 / hari. Hari ini kami menghabiskan hari dengan beristirahat total. Oya malam harinya kami baru makan nasi setelah sekian lama hanya makan mie instan saja... suueneengnya ketemu nasi..!

Hari Keempat. Minggu, 24 Mei 2009. Subuh-subuh sekitar jam 04.00 dini hari kami sudah bangun dan bersiap-siap untuk berjalan lagi ke gunung bromo-nya. Kami sholat subuh dijalan...diatas bukit-bukit jalan menuju ke bromo. Indah sekali pemandangan dari atas bromo. Wow..!! Kami juga menelusuri jalan diatara kawah dan tebing sampai akhirnya kami sampai di kawah pasir bromo. Wow... menyenangkan... sensasinya luar biasa! Kami pun berfoto-foto dimana pun tempat yang kami anggap bagus. Akhirnya kami turun dari bromo dan sampai di penginapan sekitar jam 09.30. Dari penginapan di Cemorolawang kami langsung turun ke Probolinggo dengan angkot ELF. Kali ini ongkosnya Rp.20,000 / orang, karena kami memang sudah booking dengan angkot yang sama saat kami berangkat dari Probolinggo. Sampai di Probolinggo, makan siang lalu melanjutkan kembali ke Malang. Kami berencana untuk naik bis ke Bandung dari Malang. Jadwal bisnya berangkat adalah jam 2 siang. Tetapi kami sampai di Malang jam 2 siang lewat sedikit. Ketinggalan bis. Kami beristirahat sebentar ke rumah Domplenk lalu berangkat lagi ke Surabaya untuk mengejar kereta api mutiara selatan atau turangga, tapi lagi-lagi kami terlambat, kami tidak dapat tiket utk pulang ke Jakarta atau ke Bandung malam ini. Akhirnya diputuskan malam itu kami nginep di tempat kakaknya Domplenk di Surabaya. Besok kami akan naik kereta eksekutif Argo Wilis jam 07.30 pagi. Setelah kami sampai di rumah kakaknya Domplenk, Agung Leon datang utk bertemu dan bertegur sapa.

Hari Kelima. Senin, 25 Mei 2009. Pagi-pagi sekali kami sudah berangkat ke stasiun gubeng Surabaya supaya tidak telat lagi. Kami diantar oleh kakaknya Domplenk. Jam 07.30 pagi kereta kami berangkat. Harga tiket kereta Argo Wilis Rp.220,000. Kereta ini tiba di Bandung jam 8 malam. Dari stasiun bandung kami berpisah. Wilko dan Agse langsung ke tempat travel dan langsung menuju Jakarta. Saya, Domplenk dan Boy ke tempat Domplenk. Kopral sendiri pulang ke rumahnya. Dari tempat Domplenk saya langsung ke Jatinangor utk bertemu dengan Ezie. Saya kesana diantar Domplenk naik motor. Sampai disana, saya, Domplenk dan Ezie makan malam bersama. Setelah itu saya langsung menuju Cileunyi utk naik bis yang menuju Jakarta. Saat itu sudah jam 11 malam. Di perjalanan, bis yang saya naiki pecah ban.

Hari Keenam. Selasa, 26 Mei 2009. Saya sampai rumah jam 3 dini hari... huuaa capeek! Pagi-paginya langsung berangkat kerja... kembali dengan rutinitas lagi...hiks!
Wow... long weekend kali ini benar-benar menyenangkan... A great great long weekend!!!
See you in other trip friend!!!



Ringkasan Biaya Perjalanan:

Rute

Via

Perjalanan Kami

Detail

Keterangan

Jakarta - Bandung

Bis

45,000

45,000

per orang

Bandung - Surabaya

KA - Mutiara Selatan

175,000

175,000

per orang

Surabaya - Malang

Bis AC

15,000

15,000

per orang

Malang - Probolinggo

Bis Non-AC

220,000

14,000

per orang

Probolinggo - Cemorolawang

Angkot ELF

25,000

per orang

Penginapan Ke-1


70,000

1 kamar

Penginapan Ke-2


100,000

1 rumah

Cemorolawang - Probolinggo

Angkot ELF

20,000

per orang

Probolinggo - Malang

Bis Non-AC

14,000

per orang

Malang - Surabaya

Bis AC

15,000

per orang

Surabaya - Bandung

KA - Argo Wilis

220,000

220,000

per orang

Bandung - Jakarta

Bis

45,000

45,000

per orang

TOTAL

720,000

588,000



  • Total biaya perjalanan kami adalah Rp.720,000 / orang, sudah termasuk makan & penginapan.
  • Jika biaya perjalanan dirinci tanpa penginapan & makan adalah Rp. 588,000 / orang.

1 comment:

  1. Good report Go!
    asyiiik jalan2 terus, LANJUTKAN!
    mumpung masih bujangan :D

    ReplyDelete