Day 1 #
Remaja tanggung dgn seragam putih abu2 itu memasuki kelasnya yg baru. Ini hr pertamanya sejak ia pindah dr sekolah lamanya di Solo.
Day 2 #
Semua mata menatapnya dg asing ketika ia masuk kelas. Ia pun menatap kembali mata-mata itu, memastikan dirinya aman dr ancaman laten.
Day 3 #
Dan langkahnya terhenti, ketika kedua pasang mata itu bertemu. Perasaan aneh tak menentu muncul, aliran darah pun berdesir kencang.
Day 4 #
Pikirannya terbang ke masa lalu. 6 tahun silam. Ketika ia pertama kali bertemu laki-laki itu. Di lapangan bola di belakang sekolah.
Day 5 #
Namanya Aji. Ya, kejadian itu menjadi kenangan tak terlupakan bagi Yudo. Mereka berkelahi sepulang sekolah & mjd tontonan teman2nya.
Day 6 #
Masalahnya sederhana saja, perkelahian terjadi krn saling ejek nama bapak. Ya bagi anak seusia itu memang rasany sebal sekali jika ada org yg memanggilnya dgn nama bapaknya.
Day 7 #
“Ayo pukul Ji”, teriak pendukung Aji. “Hantem aja Do”, teman Yudo membalas. Teriakan-teriakan dukungan dari penonton saling bersahutan. “Hajar Ji”, “banting Do”, “jangan kasih ampun”, “abisin”. Dan akhirnya Aji melakukan serangan duluan, pukulan pertamanya mendarat telak di muka Yudo. Mundur sedikit, Yudo membalas dengan tendangan yg tak kalah menyakitkannya ke perut Aji. Selanjutnya, terjadilah baku hantam yg dahsyat di siang haru disertai gemuruh suara-suara dr pendukung kedua kubu. Persis seperti duel Gladiator kelas teri.
Sepuluh menit kemudian, tiba-tiba dari belakang terdengar suara, “berhenti… berhenti!!”. Ternyata itu suara Pak Anto yang berlari menuju kerumunan itu, lalu berkata, “stoopp,, hentikan!!”. Perkelahian itu pun mendadak berhenti dan suara-suara dukungan lenyap. Suasana menjadi sunyi dan tegang. “Kalian berdua ikut Bapak ke Ruang Guru sekarang… yang lain bubaar!!”, perintah Pak Anto. Mereka berdua pun dengan terpaksa akhirnya mengikuti Pak Anto ke Ruang Guru.
Di Ruang Guru, setelah Pak Anto mengetahui permasalahannya kenapa mereka berkelahi, Pak Anto pun meminta mereka utk bersalaman, bermaafan dan berjanji utk tidak berkelahi lagi dan tidak mengejek dgn nama bapak-bapaknya lagi. “Saya berjanji Pak tidak akan berkelahi lagi”, Yudo berjanji. Aji pun berkata, “Saya nggak akan mengulangi lagi Pak, saya janji”. Walaupun kesannya seperti terpaksa utk mengatakan janji itu, tapi kedua anak itu benar-benar berjanji untuk tidak berkelahi lagi.
Tetapi walaupun Aji dan Yudo sudah berjanji tidak akan berkelahi lagi, kejengkelan mereka belum hilang sepenuhnya. Akhirnya mereka sepakat utk meneruskan perkelahiannya di dunia video game. Ya saat itu video game Nintendo memang sedang menjadi permainan paling mutakhir dan game “Street Fighter” menjadi game favorit anak laki-laki. Yudo terkenal sebagai jagoan Street Fighter di RT-nya, jagoannya adalah Dhalsim. Dan Aji pun juga jagoan Street Fighter di RT-nya, dia memilih Ken sbg jagoannya.
Mereka akhirnya bertarung dlm dunia “Street Fighter”. Kadang Aji menang, tak jarang pula ia kalah. Begitu juga dengan Yudo. Sulit menentukan siapa yg lebih unggul di dalam “Street Fighter” ini. Sampai-sampai akhirnya kota Solo sering sekali mengadakan turnamen “Street Fighter”. Mereka berdua sering sekali bertemu di Final. Beberapa kali Yudo menjadi juara satu, begitu juga dgn Aji. Jika Yudo juara satu maka Aji juara dua. Dan jika Aji juara satu maka bisa dipastikan Yudo juara dua.
Mereka berdua pun menjadi master “Street Fighter” se-Solo. Tak ada yg bisa menandingi kehebatan mereka berdua. Pertarungan ini pun terus berlanjut sampai mereka SMP. Pada saat itu kemunculan video game baru Sega menggantikan popularitas Nintendo. Dan “Street Fighter” kini pun tergantikan oleh “Mortal Kombat”. Lagi-lagi mereka berdua kembali menjadi ahli dalam game “Mortal Kombat” ini. Kali ini di seluruh Jawa Tengah tak ada yg bisa menandingi kebrutalan mereka di dalam “Mortal Kombat”. Jagoan Yudo adalah Sub-Zero, sedangkan Aji adalah Liu Kang. Lawan-lawan mereka lumat habis dalam waktu kurang dari 10 detik, tanpa lawan tersebut menyentuh jagoannya sedikit pun. Kemenangan yang sempurna atau istilahnya “Flawless Victory”. Lawan dihabisi tanpa kenal ampun, “no mercy”, seringkali dihabisi dengan sangat fatal bahkan brutal. Ya mereka sangat menguasai jurus-jurus rahasia “Fatality” dan “Brutality” jagoannya masing-masing. Dan ini memberikan kepuasannya tersendiri bagi mereka.
Seperti sebelumnya, juara-juara turnamen “Mortal Kombat” pun di dominasi oleh Aji dan Yudo. Juara satu dan dua selalu bergantian disabet Aji atau Yudo. Sampai suatu saat, di kelas dua SMP, Aji harus pindah ke Jakarta mengikuti Bapaknya yg ditugaskan dinas disana. Dengan pindahnya Aji ke Jakarta, Yudo pun menjadi penguasa Jawa Tengah di dalam game ini. Tak ada yg dpt menandinginya. Tetapi semenjak itu pula kegairahan Yudo dalam game ini menurun. Tidak ada lawan yang sepadan menyebabkan dia mulai bosan. Tak ada tantangan.
Sampai akhirnya, tiga tahun kemudian, Yudo pindah sekolah ke selatan Jakarta. Dan ternyata dia bertemu dengan tatapan mata dingin yg dikenalnya sejak dulu. Ya, itulah Aji, musuh bebuyutannya, musuh abadinya, yang ternyata satu sekolah lagi dengannya. Pertemuan ini membuat darah petarung Yudo bangkit kembali. Tapi kali ini Sega sudah tergantikan oleh Playstation dan “Mortal Kombat” sudah tergantikan dengan “Tekken”. Ya saat ini adalah “Tekken” era… dan saat ini harus jadi penentuan siapakah yg terbaik diantara mereka berdua. Aji atau Yudo???
## Mereka berdua mempunyai keteguhan hati yg luar biasa, sampai saat ini mereka tetap memegang teguh janji mereka. Yaitu tidak pernah berkelahi lagi dengan siapapun dan dimana pun.
Jadi drpd berantem mendingan maen game aje yuukk… :D
Remaja tanggung dgn seragam putih abu2 itu memasuki kelasnya yg baru. Ini hr pertamanya sejak ia pindah dr sekolah lamanya di Solo.
Day 2 #
Semua mata menatapnya dg asing ketika ia masuk kelas. Ia pun menatap kembali mata-mata itu, memastikan dirinya aman dr ancaman laten.
Day 3 #
Dan langkahnya terhenti, ketika kedua pasang mata itu bertemu. Perasaan aneh tak menentu muncul, aliran darah pun berdesir kencang.
Day 4 #
Pikirannya terbang ke masa lalu. 6 tahun silam. Ketika ia pertama kali bertemu laki-laki itu. Di lapangan bola di belakang sekolah.
Day 5 #
Namanya Aji. Ya, kejadian itu menjadi kenangan tak terlupakan bagi Yudo. Mereka berkelahi sepulang sekolah & mjd tontonan teman2nya.
Day 6 #
Masalahnya sederhana saja, perkelahian terjadi krn saling ejek nama bapak. Ya bagi anak seusia itu memang rasany sebal sekali jika ada org yg memanggilnya dgn nama bapaknya.
Day 7 #
“Ayo pukul Ji”, teriak pendukung Aji. “Hantem aja Do”, teman Yudo membalas. Teriakan-teriakan dukungan dari penonton saling bersahutan. “Hajar Ji”, “banting Do”, “jangan kasih ampun”, “abisin”. Dan akhirnya Aji melakukan serangan duluan, pukulan pertamanya mendarat telak di muka Yudo. Mundur sedikit, Yudo membalas dengan tendangan yg tak kalah menyakitkannya ke perut Aji. Selanjutnya, terjadilah baku hantam yg dahsyat di siang haru disertai gemuruh suara-suara dr pendukung kedua kubu. Persis seperti duel Gladiator kelas teri.
Sepuluh menit kemudian, tiba-tiba dari belakang terdengar suara, “berhenti… berhenti!!”. Ternyata itu suara Pak Anto yang berlari menuju kerumunan itu, lalu berkata, “stoopp,, hentikan!!”. Perkelahian itu pun mendadak berhenti dan suara-suara dukungan lenyap. Suasana menjadi sunyi dan tegang. “Kalian berdua ikut Bapak ke Ruang Guru sekarang… yang lain bubaar!!”, perintah Pak Anto. Mereka berdua pun dengan terpaksa akhirnya mengikuti Pak Anto ke Ruang Guru.
Di Ruang Guru, setelah Pak Anto mengetahui permasalahannya kenapa mereka berkelahi, Pak Anto pun meminta mereka utk bersalaman, bermaafan dan berjanji utk tidak berkelahi lagi dan tidak mengejek dgn nama bapak-bapaknya lagi. “Saya berjanji Pak tidak akan berkelahi lagi”, Yudo berjanji. Aji pun berkata, “Saya nggak akan mengulangi lagi Pak, saya janji”. Walaupun kesannya seperti terpaksa utk mengatakan janji itu, tapi kedua anak itu benar-benar berjanji untuk tidak berkelahi lagi.
Tetapi walaupun Aji dan Yudo sudah berjanji tidak akan berkelahi lagi, kejengkelan mereka belum hilang sepenuhnya. Akhirnya mereka sepakat utk meneruskan perkelahiannya di dunia video game. Ya saat itu video game Nintendo memang sedang menjadi permainan paling mutakhir dan game “Street Fighter” menjadi game favorit anak laki-laki. Yudo terkenal sebagai jagoan Street Fighter di RT-nya, jagoannya adalah Dhalsim. Dan Aji pun juga jagoan Street Fighter di RT-nya, dia memilih Ken sbg jagoannya.
Mereka akhirnya bertarung dlm dunia “Street Fighter”. Kadang Aji menang, tak jarang pula ia kalah. Begitu juga dengan Yudo. Sulit menentukan siapa yg lebih unggul di dalam “Street Fighter” ini. Sampai-sampai akhirnya kota Solo sering sekali mengadakan turnamen “Street Fighter”. Mereka berdua sering sekali bertemu di Final. Beberapa kali Yudo menjadi juara satu, begitu juga dgn Aji. Jika Yudo juara satu maka Aji juara dua. Dan jika Aji juara satu maka bisa dipastikan Yudo juara dua.
Mereka berdua pun menjadi master “Street Fighter” se-Solo. Tak ada yg bisa menandingi kehebatan mereka berdua. Pertarungan ini pun terus berlanjut sampai mereka SMP. Pada saat itu kemunculan video game baru Sega menggantikan popularitas Nintendo. Dan “Street Fighter” kini pun tergantikan oleh “Mortal Kombat”. Lagi-lagi mereka berdua kembali menjadi ahli dalam game “Mortal Kombat” ini. Kali ini di seluruh Jawa Tengah tak ada yg bisa menandingi kebrutalan mereka di dalam “Mortal Kombat”. Jagoan Yudo adalah Sub-Zero, sedangkan Aji adalah Liu Kang. Lawan-lawan mereka lumat habis dalam waktu kurang dari 10 detik, tanpa lawan tersebut menyentuh jagoannya sedikit pun. Kemenangan yang sempurna atau istilahnya “Flawless Victory”. Lawan dihabisi tanpa kenal ampun, “no mercy”, seringkali dihabisi dengan sangat fatal bahkan brutal. Ya mereka sangat menguasai jurus-jurus rahasia “Fatality” dan “Brutality” jagoannya masing-masing. Dan ini memberikan kepuasannya tersendiri bagi mereka.
Seperti sebelumnya, juara-juara turnamen “Mortal Kombat” pun di dominasi oleh Aji dan Yudo. Juara satu dan dua selalu bergantian disabet Aji atau Yudo. Sampai suatu saat, di kelas dua SMP, Aji harus pindah ke Jakarta mengikuti Bapaknya yg ditugaskan dinas disana. Dengan pindahnya Aji ke Jakarta, Yudo pun menjadi penguasa Jawa Tengah di dalam game ini. Tak ada yg dpt menandinginya. Tetapi semenjak itu pula kegairahan Yudo dalam game ini menurun. Tidak ada lawan yang sepadan menyebabkan dia mulai bosan. Tak ada tantangan.
Sampai akhirnya, tiga tahun kemudian, Yudo pindah sekolah ke selatan Jakarta. Dan ternyata dia bertemu dengan tatapan mata dingin yg dikenalnya sejak dulu. Ya, itulah Aji, musuh bebuyutannya, musuh abadinya, yang ternyata satu sekolah lagi dengannya. Pertemuan ini membuat darah petarung Yudo bangkit kembali. Tapi kali ini Sega sudah tergantikan oleh Playstation dan “Mortal Kombat” sudah tergantikan dengan “Tekken”. Ya saat ini adalah “Tekken” era… dan saat ini harus jadi penentuan siapakah yg terbaik diantara mereka berdua. Aji atau Yudo???
## Mereka berdua mempunyai keteguhan hati yg luar biasa, sampai saat ini mereka tetap memegang teguh janji mereka. Yaitu tidak pernah berkelahi lagi dengan siapapun dan dimana pun.
Jadi drpd berantem mendingan maen game aje yuukk… :D

No comments:
Post a Comment