Akhirnya lanjut ke cd yang ke-tiga juga setelah sekian lama. Kali ini ceritanya mengenai bagaimana menjadi pemimpin di dalam hidup.
------------------------------------------------------------------
Menjadi pemimpin di dalam hidup, ada 3 hal yg harus kita lakukan:
1. Kita tahu dimana kita berada. Kita tidak memperburuk situasi, kita tidak memperbaiki situasi dalam arti mengatakan hal-hal yang baik padahal kejadiannya buruk. Kita tahu dan mampu melihat apa adanya yang terjadi.
2. Tahu kemana kita mau pergi. Mempunyai visi atau goal yang sangat jelas.
3. Kita berdaya atau penuh sumber daya. Resourcefulness.
1. Tahu dimana kita berada.
Misalnya berat badan kita kelebihan 20 kg, maka kita mengakuinya, "saya berat badannya kelebihan 20 kg". Bukannya memperbaiki keadaan, sehingga kita ngomong seperti ini, "saya ini gemuk tapi sehat koq". Kalau kita sudah memberikan kata-kata seperti itu, kita tidak akan termotivasi untuk menjadi langsing.
Contoh lagi misalnya kita kekurangan uang tapi ngomong gini, "gapapa koq saya miskin tapi bahagia". No..no.. kita miskin, ya sudah miskin. Kurang duit, ya kurang duit titik. Kita tidak perlu menetralisir keadaan. Otak kita hanya cari nikmat menghindari sengsara. Sesuatu yang nikmat akan kita kejar, dan ketika sengsara kita akan menghindar. Tapi ketika sengsara & nikmat dicampur maka otak kita jadi bingung, jadi netral, dan kita jadi tidak bergerak kearah yang kita inginkan. Misalnya ketika kita ditolak saat melakukan pendekatan kepada wanita yang kita inginkan dan kita ngomong ke diri sendiri untuk menetralisir keadaan, "ah mereka memang cewek matre, mereka hanya mau orang-orang yang punya uang banyak, saya juga nggak suka sama cewek yang matre". Celaka!!!
Kalau kita menetralisir bahwa kita mempunyai goal dan kemudian kita meringankan goal tadi dengan membuat goal tadi seolah-olah negatif kita akan susah sekali mendapatkan apa yang kita inginkan.
2. Kita tahu kemana kita mau pergi. Goal kita yang sangat jelas.
Misalnya kita mempunyai goal mau turun 20 kg lalu kita memberi jangka waktu yang wajar. Mungkin saja dalam satu hari turun 20 kg, tapi caranya akan menjadi tidak wajar. Kalau kita mempunyai alasan yang sangat kuat kreativitas kita akan meledak dan kita bisa mencapai goal kita dengan sangat cepat. Alasan sangat kuat ini adalah cari nikmat menghindari sengsara. Kalau sengsara jelas sekali & nikmatnya jelas sekali bisa kita akan menemukan caranya.
Misalnya alasan nikmat kalau berhasil menurunkan berat 20 kg, kita akan diberi 100 milyar cash keras. Kalau ditambah lagi sengsara misalnya kalau tidak bisa turun 20 kg dalam sehari maka akan dihukum mati, dihukum matinya bukan ditembak tapi disilet-silet 1 cm - 1 cm, lalu dikasih jeruk nipis kemudian dikasih garam dan kalau 1 jam tidak meningggal dunia dijemur. Lalu dimasukkan lagi, disilet-silet lagi vertikal 1 cm terus dikasih cuka, pokoknya sampe mati. Coba bayangkan, rasakan penderitaannya. Maka mendadak kita akan berpikir caranya misalnya potong kaki kanan, kaki kanan kurang tambahin potong kaki kiri, kalau kurang tambahin potong tangan kiri. Gapapa potong kaki & potong tangan daripada harus dihukum mati.
Kesimpulannya ketika kita tahu kemana kita akan pergi, kita butuh alasan yang sangat kuat untuk mencapai yang kita inginkan.
3. Kita berdaya atau penuh sumber daya. Resourcefulness.
Berdaya itu bukan situasi, bukan kondisi. Banyak orang bilang kondisinya tidak memungkinkan bagi saya, mereka memberikan alasan segudang, mereka menyalahkan situasi, mereka BEJ (Blame, Excuse dan Justify) yaitu membenarkan orang lain tanpa kita mau belajar. Padahal banyak orang yang berada pada kondisi sulit seperti mereka, tapi orang tersebut bisa mencapai goalnya. Bedanya orang yang BEJ dengan yang berdaya adalah orang yang BEJ tidak mempunyai alasan yang sangat kuat, mereka juga tidak tahu caranya. Misalnya kita memberi contoh orang sukses kepada orang yang BEJ, maka dia akan berkata, "oo terang aja dia anaknya orang kaya, sekolah diluar negeri, pulang dibawain BMW, bahasa inggris lancar, kenalan anak menteri, ya terang aja dia sukses".
Terus kalo dikasih contoh anaknya orang miskin tapi jadi kaya dan sukses, maka orang BEJ akan berkata, "tentu saja, tidak heran, karena dia anaknya orang miskin makanya daya juangnya kuat". Dia membenarkan orang dan memberi alasan. Orang yang biasa BEJ ini biasanya apapun yang dia katakan sebetulnya seringkali adalah kebenaran. Misalnya lagi, "saya masih umur 19 koq, saya kan masih muda, saya kan tidak punya pengalaman, yaa saya nggak bisa sukses dong". Benar dia umur 19 tahun, benar dia tidak punya pengalaman, benar dia masih muda. Nah pertanyaannya ada nggak orang yang berusia 19 tahun, masih muda, belum punya pengalaman yang sukses?. Jawabannya banyak sekali.
Orang BEJ akan berfokus kepada hal-hal kenapa dia tidak sukses, kenapa dia tidak take action. Perkataan-perkataan BEJ ini tidak ada gunanya sama sekali. Satu-satunya gunanya adalah perkataan ini membuat mental block atau tembok yang besar sekali yang membuat dia tidak perlu melangkah dan kemudian hasilnya nol.
Seorang pemimpin dalam hidupnya tidak menyalahkan situasi & lingkungan karena dia tahu persis bahwa itu adalah hal-hal yang tidak bisa dia pengaruhi, karena hal tersebut sudah terjadi, tapi dia bisa mempengaruhi action-nya dia, semangatnya dia, pikirannya dia, kata-katanya dia sehingga dia bisa mencapai apa yang dia inginkan.
Kalau ingin berhasil kita harus modeling orang-orang yang sudah berhasil.
Apa sih goalnya, apa yang dilakukan, bagaimana detailnya?.
PR kali ini:
Tulis goal yang anda inginkan, satu hal yang sehari-hari anda inginkan. Goal anda yang sederhana, tujuan anda. Yang penting anda tahu kemana anda akan pergi, bisa diukur.
1. Tulis dimana anda berada sekarang.
2. Tulis goal yang bisa diukur.
3. Tulis alasan yang sangat kuat, kenikmatan apa yang akan anda alami & kesengsaraan apa yang akan anda rasakan jika anda tidak mencapai goal tersebut.
4. Daya upaya apa untuk mencapai goal ini. Tanya & belajar kepada siapa.
*disarikan dari: Life Revolution - Tung Desem Waringin
Wednesday, April 21, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

Sangat inspiring Pak Ronggo, ditengah2 hiruk pikuk sebagain orang menjadi karyawan, beliau berani memutuskan untuk pensiun dini dan mengejar impiannya.
ReplyDeleteRegards
-Ibenk-
www.led-insight.com
dilanjut gan ke hari yang keempat
ReplyDelete